SUKABUMI — Panthera Jagat News. Pemerintah Desa Neglasari, Kecamatan Purabaya, Kabupaten Sukabumi, bersama BUMDes Berdaya terus mempertahankan program ketahanan pangan melalui usaha peternakan ayam petelur. Program yang bersumber dari anggaran ketahanan pangan Tahun Anggaran 2025 tersebut hingga kini masih berjalan dan tetap dipertahankan meski menghadapi tekanan biaya produksi, terutama harga pakan.
Kepala Desa Neglasari, Lili Rahman, mengatakan keberlanjutan usaha tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah desa dalam menjaga amanah pengelolaan anggaran negara sekaligus memastikan program ketahanan pangan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Menurutnya, persoalan utama yang kini dihadapi peternak skala mikro adalah tingginya biaya pakan yang terus menekan margin usaha. Kondisi tersebut menjadi semakin berat ketika harga telur tidak mengalami peningkatan yang sebanding dengan kenaikan biaya produksi.
“Alhamdulillah sampai saat ini BUMDes Berdaya masih tetap eksis. Kami tetap bertahan karena ini merupakan tanggung jawab dalam menjalankan program ketahanan pangan sekaligus mempertanggungjawabkan penggunaan uang negara,” ujar Lili Rahman.
Ia menjelaskan, usaha peternakan yang dikelola masih berada dalam skala mikro. Populasi ayam yang dipelihara sekitar 1.000 ekor, sehingga kemampuan usaha untuk menyerap kenaikan biaya produksi juga terbatas.
Dalam perhitungan yang disampaikan pemerintah desa, pendapatan dari penjualan telur berada di kisaran Rp1,25 juta per hari, sementara kebutuhan pakan mencapai sekitar Rp1,2 juta per hari. Dengan selisih yang relatif tipis tersebut, ruang keuntungan usaha menjadi sangat terbatas dan belum memperhitungkan biaya operasional lainnya.
“Kalau dihitung, penghasilan per hari sekitar Rp1.250.000, sedangkan kebutuhan pakan kurang lebih Rp1.200.000. Artinya, margin yang tersisa sangat kecil. Belum lagi ada kebutuhan lain seperti perawatan dan biaya operasional,” jelasnya.
Kondisi itu, kata Lili, menunjukkan bahwa keberlanjutan usaha peternakan rakyat tidak hanya ditentukan oleh tersedianya modal awal, tetapi juga oleh stabilitas biaya produksi dan harga jual hasil ternak.
Karena itu, ia berharap pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, maupun Pemerintah Kabupaten Sukabumi dapat memberikan perhatian terhadap persoalan harga pakan yang dirasakan peternak kecil.
“Kami mohon kepada pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten agar harga pakan jangan terus naik. Kami ini peternak kecil, skala usaha mikro. Kalau harga pakan tinggi sementara harga telur tidak sebanding, tentu sangat berat bagi kami untuk mempertahankan usaha,” katanya.
Lili menegaskan, pemerintah desa tidak ingin program ketahanan pangan berhenti hanya karena menghadapi persoalan biaya produksi. Sebaliknya, keberadaan BUMDes harus terus diupayakan agar mampu menjadi instrumen penguatan ekonomi desa dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“BUMDes harus tetap bertahan. Kami ingin program ini berjalan berkelanjutan, bukan hanya selesai ketika anggarannya digunakan. Yang paling penting adalah bagaimana usaha ini tetap hidup dan uang negara yang dipercayakan kepada desa bisa dipertanggungjawabkan melalui kegiatan yang produktif,” tegasnya.
Program tersebut juga sejalan dengan arah penguatan BUMDes dan ketahanan pangan di Kecamatan Purabaya. Pada 2025, DPMD Kabupaten Sukabumi melakukan pembinaan terhadap BUMDes di Kecamatan Purabaya terkait pemanfaatan Dana Desa untuk penyertaan modal ketahanan pangan. Dalam pembinaan itu, DPMD menekankan pentingnya kesesuaian usaha dengan potensi desa serta penyusunan laporan keuangan dan pertanggungjawaban secara berkala.
Sebelumnya, pengelolaan usaha ketahanan pangan Desa Neglasari juga diberitakan terus dikembangkan melalui sektor peternakan. Pemerintah desa menyatakan program tersebut diharapkan dapat berkelanjutan dan meningkatkan kapasitas usaha sehingga pada akhirnya mampu memberikan tambahan pendapatan bagi desa serta masyarakat.
Dari sisi pengelolaan program publik, keberlanjutan usaha tersebut menjadi penting untuk dievaluasi secara berkala. Bukan hanya apakah usaha tetap berjalan, tetapi juga bagaimana tingkat produktivitas, biaya pakan, harga telur, arus kas, laba-rugi, serta manfaat ekonominya bagi desa dan masyarakat.
Dengan demikian, ketahanan pangan tidak berhenti pada penyaluran modal, tetapi harus mampu menghasilkan usaha produktif yang sehat, transparan, dan berkelanjutan.
“Harapan kami sederhana, pemerintah tetap memperhatikan peternak kecil. Jangan sampai usaha yang sudah dibangun melalui program ketahanan pangan akhirnya terhenti karena biaya pakan terlalu tinggi. Kami ingin BUMDes Neglasari tetap hidup, berkembang, dan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkas Lili Rahman.
Desa Neglasari Berseri, Kabupaten Sukabumi Mubarakah, Jawa Barat Istimewa, Indonesia Maju.
sukma





