SUKABUMI – Panthera Jagat News. Kiprah putra daerah asal Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Ujang Supriatin, di panggung internasional mendapat sorotan. Di tengah keterlibatannya sebagai delegasi pekerja Indonesia dalam International Labour Conference (ILC) Session ke-114 yang diselenggarakan oleh International Labour Organization (ILO) di Jenewa, Swiss, Ujang mengaku prihatin karena hingga kini belum merasakan adanya perhatian maupun apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Sukabumi maupun Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Pria yang akrab disapa Abah Ujang Guru-forum itu merupakan salah satu perwakilan Indonesia yang berpartisipasi dalam forum ketenagakerjaan terbesar dunia yang dihadiri delegasi dari 187 negara anggota ILO. Kehadirannya tidak hanya membawa nama organisasi yang dipimpinnya, tetapi juga membawa identitas sebagai putra daerah Sukabumi yang berkiprah di tingkat global.
Menurut Ujang, perjuangan di forum internasional tersebut bukan sekadar mewakili serikat pekerja, melainkan bagian dari upaya memperjuangkan kesejahteraan buruh Indonesia, termasuk pekerja di daerah.
“Kesempatan menjadi delegasi Indonesia dalam forum internasional sepeiarkan bukan hal yang mudah. Ini adalah momentum untuk menyuarakan kepentingan pekerja Indonesia agar mendapatkan perlindungan, pekerjaan yang layak, serta peningkatan kesejahteraan,” ujar Ujang di sela kegiatan konferensi di Jenewa.
Pada hari kedua pelaksanaan ILC ke-114, Ujang yang menjabat sebagai Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Maritim Indonesia (FSP Maritim-KSPSI) mengikuti berbagai pembahasan strategis dalam sejumlah komite penting.
Salah satunya adalah Committee on the Application of Standards (CAN) yang membahas implementasi konvensi dan rekomendasi ILO oleh negara-negara anggota. Komite ini menjadi forum evaluasi terhadap kepatuhan negara dalam menjalankan standar ketenagakerjaan internasional.
Selain itu, Ujang juga mengikuti pembahasan pada Standard Setting Committee (CNP) yang fokus merumuskan standar internasional mengenai pekerjaan layak dalam ekonomi platform atau platform economy. Isu ini menjadi perhatian dunia seiring berkembangnya model kerja berbasis aplikasi digital yang semakin banyak menyerap tenaga kerja.
Sementara itu, Recurrent Discussion6 Committee (CD-R) membahas penguatan dialog sosial, sistem tripartit, serta kebebasan berserikat sebagai fondasi6 hubungan industrial yang sehat dan berkeadilan.

Di waktu yang sama, General Discussion Committee (CDG) menggelar diskusi mengenai kemajuan transformasi kesetaraan gender di dunia kerja. Pembahasan tersebut bertujuan mendorong terciptanya kesempatan kerja yang setara tanpa diskriminasi bagi seluruh pekerja.
Seluruh rangkaian sidang berlangsung di sejumlah lokasi penting di Jenewa, di antaranya Palais des Nations, markas besar United Nations Office at Geneva (UNOG), kantor pusat ILO atau Bureau International du Travail (BIT), serta Geneva International Conference Centre (CICG).
Sebagai bagian dari delegasi pekerja Indonesia yang berada di bawah naungan Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Ujang menilai forum tersebut menjadi kesempatan penting untuk menyerap perkembangan kebijakan ketenagakerjaan global sekaligus memperjuangkan kepentingan buruh Indonesia di tingkat internasional.
“Melalui forum ILC ini, kami dapat mengikuti secara langsung perkembangan kebijakan ketenagakerjaan dunia, mulai dari pekerjaan layak, dialog sosial, kebebasan berserikat hingga kesetaraan gender. Hasil pembahasan ini diharapkan dapat menjadi referensi untuk memperkuat perlindungan dan kesejahteraan pekerja di Indonesia,” ungkapnya.
Namun demikian, di balik pencapaian tersebut, Ujang mempertanyakan minimnya perhatian dari pemerintah daerah terhadap putra daerah yang berhasil menembus forum internasional strategis tersebut.
Menurutnya, apresiasi dari pemerintah tidak semata-mata ditujukan kepada individu, melainkan sebagai bentuk penghargaan terhadap warga daerah yang mampu membawa nama baik Sukabumi dan Jawa Barat di tingkat dunia.
Pengamat ketenagakerjaan menilai kehadiran perwakilan daerah dalam forum global seperti ILC memiliki nilai strategis karena membuka akses terhadap perkembangan regulasi dan standar ketenagakerjaan internasional yang dapat menjadi bahan masukan bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan ketenagakerjaan yang lebih adaptif.
ILC ke-114 berlangsung pada 1–14 Juni 2026 dan diikuti oleh delegasi pemerintah, pengusaha, dan pekerja dari 187 negara anggota ILO. Forum ini merupakan sidang tertinggi organisasi perburuhan dunia yang berperan dalam merumuskan kebijakan dan standar ketenagakerjaan internasional guna menjawab berbagai tantangan dunia kerja yang terus berkembang.
Di tengah dinamika tersebut, kiprah Ujang Supriatin menjadi bukti bahwa putra daerah Sukabumi mampu berkontribusi dalam forum global. Pertanyaannya kini, sejauh mana perhatian dan apresiasi pemerintah daerah terhadap warganya yang telah membawa nama daerah hingga ke panggung internasional?.
Sukma





