SURADE, KABUPATEN SUKABUMI – Panthera Jagat News. Di tengah hamparan lereng subur Kecamatan Surade, Desa Citanglar kini tengah bersolek. Meski berjarak sekitar 74 kilometer dari pusat ibu kota Kabupaten Sukabumi (Palabuhanratu), desa ini membuktikan bahwa jarak geografis bukanlah hambatan untuk menjadi motor penggerak ekonomi agraris di wilayah selatan.
Dengan fokus pada pemberdayaan potensi lokal, penguatan kelembagaan melalui BUMDes, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia lewat literasi, Desa Citanglar sedang menapaki jalan menuju desa mandiri.
Desa Citanglar diberkahi dengan bentang alam yang mendukung sektor pertanian dan perkebunan. Komoditas padi tetap menjadi pilar utama, namun diversifikasi tanaman hortikultura seperti ubi jalar, ubi kayu, dan kacang tanah terus dipacu. Tidak hanya itu, buah-buahan seperti manggis dan pepaya dari Citanglar mulai dikenal karena kualitasnya yang tumbuh subur di tanah lereng yang kaya nutrisi.
Di sektor peternakan, denyut ekonomi warga terlihat dari pengembangan populasi sapi potong, domba, dan ayam. Potensi ini bukan sekadar sampingan, melainkan aset besar yang, jika dikelola secara kolektif, dapat menjadi sumber pendapatan utama bagi masyarakat desa.
Sadar akan besarnya potensi tersebut, Pemerintah Desa Citanglar tidak tinggal diam. Melalui BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) Karya Bakti, upaya sistematis dilakukan untuk mengonsolidasi potensi ekonomi warga. Baru-baru ini, Pemerintah Desa bersama aparat Kecamatan Surade aktif menggelar Musyawarah Desa Khusus (Musdesus).

“Kami melakukan analisis kelayakan usaha yang mendalam. Tujuannya agar BUMDes Karya Bakti tidak hanya sekadar papan nama, tetapi benar-benar menjadi wadah yang meningkatkan nilai tambah produk pertanian dan peternakan warga,” ujar perwakilan perangkat desa dalam sebuah koordinasi wilayah.
Dukungan dari Kecamatan Surade menjadi angin segar bagi akselerasi BUMDes ini. Sinergi antara pemerintah desa dan kecamatan memastikan bahwa setiap langkah pengembangan usaha sejalan dengan regulasi dan kebutuhan pasar.
Salah satu keunikan Desa Citanglar adalah semangatnya dalam meningkatkan budaya literasi. Pemerintah desa meyakini bahwa transformasi ekonomi harus dibarengi dengan transformasi pola pikir. Melalui berbagai program pemberdayaan, warga didorong untuk lebih literat, baik secara edukasi umum maupun literasi keuangan dan teknologi pertanian.
Sebagai wilayah yang lahir dari semangat pemekaran (Citanglar–Kadaleman), struktur pemerintahan di desa ini dirancang untuk lebih responsif dan fokus pada kebutuhan spesifik lokal. Pemekaran wilayah memberikan ruang gerak yang lebih luas bagi perangkat desa untuk mengoptimalkan pelayanan publik dan pembangunan infrastruktur pendukung pertanian.
Tantangan jarak menuju pusat kabupaten memang nyata, namun posisi strategis di wilayah agraris Surade menjadikan Desa Citanglar sebagai penyangga pangan yang krusial. Dengan memadukan kekayaan alam, manajemen BUMDes yang profesional, serta masyarakat yang literat, Desa Citanglar siap menjadi percontohan bagaimana sebuah desa agraris bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi baru di Kabupaten Sukabumi.
Pintu kolaborasi kini terbuka lebar. Citanglar bukan lagi sekadar desa di ujung selatan, melainkan destinasi investasi agribisnis yang penuh harapan.





