Ribuan Warga Sumedang Gelar Istighotsah Akbar, Tegaskan Penolakan Proyek Geothermal Gunung Tampomas

WhatsApp Image 2026 05 26 at 7.32.13 AM
7 / 100 Skor SEO

SUMEDANG — Panthera Jagat News. Ribuan warga yang tergabung dalam Paguyuban Tampomas menggelar Istighotsah Akbar di kawasan YPS Cipanas Sekarwangi, Kecamatan Buahdua, Kabupaten Sumedang, Minggu (24/5/2026) malam. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 20.00 WIB itu menjadi ruang konsolidasi masyarakat dalam menyuarakan penolakan terhadap rencana proyek geothermal di kawasan Gunung Tampomas.

Acara menghadirkan pimpinan Pondok Pesantren Nurul Hidayah Cipatat Sekarwangi, K.H. Udin Fahrudin, serta dihadiri tokoh masyarakat, tokoh adat, unsur organisasi kemasyarakatan, hingga perwakilan komunitas budaya dari berbagai wilayah di Sumedang.

Kegiatan yang diinisiasi Paguyuban Tampomas PANAS bersama Kang Cecep tersebut berlangsung khidmat, namun sarat pesan sosial, lingkungan, dan budaya. Dalam forum itu, sejumlah tokoh menyampaikan kekhawatiran atas potensi dampak eksploitasi panas bumi terhadap kelestarian alam dan warisan budaya Gunung Tampomas.

Papih Soekarna, salah satu tokoh masyarakat yang hadir, menyoroti belum adanya regulasi daerah yang secara spesifik mengatur rencana proyek geothermal tersebut. Menurutnya, hingga kini belum terdapat Peraturan Daerah (Perda) maupun Peraturan Bupati (Perbup) yang menjadi dasar hukum pelaksanaan proyek di kawasan Gunung Tampomas.

“Jangan sampai proyek strategis berjalan tanpa landasan hukum daerah yang jelas serta tanpa keterlibatan masyarakat secara terbuka,” ujarnya.

Sementara itu, tokoh adat Ki Wangsa mengingatkan bahwa Gunung Tampomas bukan sekadar bentang alam, melainkan ruang hidup yang menyimpan nilai sejarah dan budaya masyarakat Sumedang. Ia menilai aktivitas eksploitasi geothermal berpotensi mengganggu keseimbangan lingkungan serta situs-situs budaya yang berada di kawasan tersebut.

“Gunung Tampomas memiliki keterkaitan erat dengan sejarah dan identitas masyarakat Sumedang. Kelestariannya harus dijaga,” katanya.

Senada dengan itu, Ketua RWS Cabang Sumedang, Supriyatna Avip, menegaskan bahwa kawasan Gunung Tampomas memiliki nilai strategis dari sisi ekologis, ekonomi, dan kearifan lokal. Ia mengingatkan pentingnya menjaga keberlanjutan kawasan demi generasi mendatang.

“Gunung Tampomas bukan hanya simbol sejarah, tetapi bagian penting dari kehidupan masyarakat Sumedang. Alam, budaya, dan keberlangsungan generasi mendatang harus dijaga bersama,” ungkapnya.

Sorotan juga datang dari Ketua Yayasan Pangeran Sumedang, K.H. Dede Haidar. Dalam penyampaiannya, ia mengulas kembali sejarah nama Tampomas yang berkaitan dengan pusaka keris emas dalam khazanah budaya Sunda. Ia sekaligus menyayangkan tidak hadirnya unsur legislatif maupun pejabat pemerintahan daerah dalam agenda tersebut.

“Ke depan, mungkin masyarakat yang harus mendatangi para pemangku kebijakan agar suara rakyat benar-benar didengar,” ujarnya.

Empat Pernyataan Sikap Majelis Adat Sumedanglarang

Dalam kesempatan itu, Majelis Adat Sumedanglarang turut membacakan pernyataan sikap resmi terkait penolakan proyek geothermal Gunung Tampomas. Sedikitnya terdapat empat poin utama yang disampaikan:

  1. Menolak eksploitasi Gunung Tampomas dalam bentuk apa pun karena kawasan tersebut merupakan daerah resapan air dan hulu sungai.
  2. Menegakkan adat, ilmu, dan hukum dengan menekankan pentingnya persetujuan masyarakat yang bebas dan diinformasikan sebelum pengambilan keputusan.
  3. Menjaga warisan leluhur, termasuk situs budaya, hutan, dan mata air yang dinilai sebagai amanah yang harus dilestarikan.
  4. Mendorong pembangunan yang berpihak pada keberlanjutan lingkungan dan masyarakat lokal.

Majelis Adat Sumedanglarang menegaskan penolakan terhadap proyek geothermal di Gunung Tampomas selama belum terdapat kajian ekologis, budaya, dan sosial yang dinilai komprehensif serta transparan.

Pernyataan sikap tersebut ditujukan kepada Presiden RI, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Kementerian ESDM, DPR RI, DPD RI, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, DPRD Jawa Barat, Pemerintah Kabupaten Sumedang, hingga DPRD Sumedang.

Pupuhu Agung Majelis Adat Sunda, Kang Ari Mulia Subagdja, menegaskan masyarakat adat akan terus mengawal isu tersebut demi menjaga kelestarian Gunung Tampomas.

“Tampomas bukan lahan proyek. Tampomas adalah napas Sumedang, Tampomas adalah saksi sejarah,” tegasnya di hadapan peserta istighotsah.

Melalui kegiatan tersebut, masyarakat berharap pemerintah dan para pemangku kebijakan dapat membuka ruang dialog yang lebih luas sebelum mengambil keputusan terkait proyek geothermal di kawasan Gunung Tampomas. Warga juga berharap aspek lingkungan, budaya, dan keberlanjutan kehidupan masyarakat menjadi pertimbangan utama dalam setiap kebijakan pembangunan.

Red.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *